بسم الله الرحمن الرحيم
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam,
shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan
para shahabatnya. Wa ba’d.
Ini adalah risalah singkat yang membahas tentang
kaidah-kaidah yang bisa digunakan oleh seorang muslim untuk mengetahui
perbedaan antara agamanya yang agung dengan agama neo-paganisme dan syirik
kontemporer yang dinamakan dengan sekularisme beserta cabang-cabangnya. Dengan
mengetahui perbedaan itu ia bisa menjauhinya, meninggalkan, serta melepaskan
diri darinya dan para pengikutnya yang disebut dengan sekularis. Dia bisa
membebaskan diri dari mereka karena Allah, membenci, mengkafirkan, memusuhi,
dan berjihad terhadap mereka, baik mereka yang berperan sebagai pemikir,
intelektual, politikus, pemerintah, jurnalis, penyanyi, atau pelukis, baik yang
berupa teori, lembaga pemerintah atau lembaga non-pemerintah (LSM). Berikut
inilah keempat kaedah tersebut
Kaedah Ke-1
Kaum musyrikin yang menjadi obyek diutusnya
Rasulullah saw adalah kaum yang tetap meyakini tauhid rububiyyah
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki
kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan?” Maka mereka
akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa
kepada-Nya)?” (Yunus:31)
Katakanlah:
“Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah
kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan
yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”
Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di
tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi
tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”
Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”
(al-Mu’minun:84-89)
Dan
sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam
keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf:106)
Meskipun
demikian, Rasulullah tetap memerangi mereka, menyatakan kekufuran mereka dan
tidak memasukkan mereka ke dalam kelompok Islam
Kaum
sekularis yang moderat masih mengakui tauhid rububiyyah. Mereka pun masih
melakukan beberapa macam bentuk ibadah, tetapi itu semua tidak menyebabkan
mereka masuk ke dalam Islam. Adapun kaum sekular yang ekstrim, maka mereka
mereka lebih sesat lagi, sebab mereka tidak memiliki sesembahan dan tIdak pula
memiliki Rabb, kehidupan bagi mereka adalah materi belaka.
Kaedah ke-2
Rasulullah
saw diutus kepada umat manusia yang memiliki perundang-undangan tersendiri. Undang-undang itu mereka gunakan untuk
memutuskan persengketaan di antara mereka. Mereka memiliki tradisi jahiliyah, yang
mereka jadikan landasan kehidupan mereka, sehingga mereka menolak hukum dan
hidayah Allah. Karena itulah Allah swt dan Rasul-Nya saw mengkafirkan dan
memerangi mereka, serta tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Di antara
perundang-undangan yang mereka miliki, sebagaimana disebutkan di dalam
al-Qur’an
Dan
janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika
menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.
Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah
menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An’am:121)
Dan
Allah swt berfirman tentang kaum Quraisy dan para pengikutnya
Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan Allah? (asy-Syura:21)
Dan
kaum sekular saat ini juga memiliki perundang-undangan, hukum positif, baik
hukum kenegaraan, daerah atau hukum internasional. Hukum itulah yang digunakan
untuk memutuskan persoalan yang timbul di antara mereka. Mereka juga memiliki
tradisi dan budaya jahiliyah yang menjadi dasar kehidupan mereka. Mereka
menamakan tradisi mereka sebagai peradaban, pencerahan dan kemajuan. Mereka
tidak menerima hukum Allah swt dan petunjuk-Nya, maka mereka pun harus
dikafirkan dan kaum muslim harus berlepas diri dari mereka.
Kaedah ke-3
Bahwa
Rasulullah saw datang kepada manusia yang masih berpegang pada ajaran agama
dalam satu keadaan tetapi meninggalkannya dalam keadaan yang lain. Mereka
menyembah Alah dalam keadaan sulit, tetapi dalam keadaan lapang mereka
melalaikan Allah swt. Dalam kondisi seperti itu, mereka tetap dinamakan sebagai
musyrik. Allah swt berfirman
Maka
apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba
mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (al-Ankabut:65)
Demikian
juga, mereka memberikan suatu hak kepada Allah swt, dan juga memberikan hak
yang lain kepada berhala mereka, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah
swt;
Lalu
mereka berkata sesuai: “Ini untuk Allah dan Ini untuk berhala-berhala kami”.
(al-An’am:136)
Kaum
sekular juga demikian, mereka menyembah Allah swt di masjid dan di bulan
Ramadhan. Dalam pernikahan, talak, dan urusan perdata mereka mengikuti aturan
Allah, tetapi dalam urusan yang lain mereka kembali kepada perundang-undangan
dan tradisi mereka yang sesat.
Kaidah ke-4
Rasulullah
saw diutus kepada kaum yang memiliki bermacam-macam tuhan, Ada di antara mereka
yang menyembah berhala, patung, malaikat, jin, bintang-bintang, api, Nabi Isa
bin Maryam dan nabi-nabi lainnya, serta orang-orang shalih. Rasulullah saw
tidak membeda-bedakan mereka dalam menjatuhkan vonis kafir dan memutuskan untuk
memerangi mereka. Kaum sekular demikian juga, mereka memiliki banyak tuhan.
Dilihat dari sesembahannya, ada di antara mereka yang menyembah Amerika, ada
yang menyembah Eropa, Rusia, dan PBB. Ada pula yang menyembah teori, ada yang
menyembah negara, nasionalisme, ras, dan ada yang menyembah pemimpin dan tokoh
intelektual mereka. Maka mereka (antara kaum jahiliyah Quraisy dengan kaum
sekular) sama dalam kekufuran dan riddah (kemurtadan).
Masalah:
Menyusul
persoalan sekularisme di atas, ada kelompok-kelompok yang akhir-akhir ini
muncul, menjembatani, mengikut dan menempel pada kaum sekular. Kelompok-kelompok ini secara garis besar
terdiri dari dua golongan, yakni;
a- Dilihat dari aspek keimanan dan
pengkafiran, kelompok ekstrimis murji’ah.
b- Dilihat dari aspek fiqih adalah kelompok
pengikut hawa nafsu, permisif, tunduk pada realitas dan menggampangkan, yang
ujung-ujungnya termasuk ke dalam kategori zindiq.
Penutup
Kami tambahkan di sini pendapat Syaikh
Abdurrahman bin Muhammad ad-Dausiri rh. Di antara kelompok yang mula-mula
menampakkan diri sebagai neo-paganisme, dan syirik kontemporer yang terlaknat
adalah sekularisme. Beliau mengatakan di dalam penutup risalah Kasyfu Syubuhat,
cetakan pertama tahun 1385 H, yang menjadi penutup kitab kasyfu syubuhat karya
Syaikh muhammad bin Abdul Wahhab, “Dildalam kitab ini beliau telah membukakan
tabir neo-paganisme, dan syirik kontemporer, sebagaimana syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab telah menyingkap persoalan syirik di masanya.
Syaikh Abdurrahman ad-Dausiri mengatakan,
“Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di dalam kitabnya Kasyfu Syubuhat
telah mendiagnosa syirik khurafat dalam berbagai bentuknya, seperti berdo’a
kepada mayat, makhluk ghaib dan mensucikan kuburan. Kemudian setelah itu muncul
berbagai bentuk syirik dengan julukan dan nama yang membuat kaum awam tertipu,
dan orang-orang yang mendendam dan berkepentingan menjadi ketergantungan pada
nama itu.
Kemudian beliau mengatakan, “Sesungguhnya
pemimpin besarnya adalah Yahudi dan Majusi, karena mereka khawatir akan
bangkitnya Islam yang bersih dari penyimpangan yang dihasung oleh Muhammad bin
Abdul Wahab dan para pendukungnya.
Pada masa ini para pendukung gerakan tersebut
dari kaum kita berusaha menyalakan semangat jahiliyah dengan kesombongan
fanatisme nasionalisme di setiap ummat Islam. Maka nampaklah neo paganisme dan
para penyembah materi dan syahwat, pengkultus individu dengan alasan ras atau
nasionalisme, sehingga mencakup seluruh penjuru dunia Islam dan bangsa Arab,
khususnya neo-kemurtadan dengan menjiplak prinsip-prinsip ajaran nasionalisme
dan sekte materialisme yang dihiasi dengan berbagai julukan yang secara dhahir
tampak sebagai bentuk kasih sayang tetapi hakekatnya adalah adzab. Setelah
memberikan muqaddimah ini Syaikh Abdurrahman ad-Dausiri berbicara tentang makna
uluhiyyah dan dasar-dasarnya.
Dasarnya ada dua, yaitu;
1- Mengingkari segala bentuk sesembahan
2- Mengesakan Allah dalam ibadah dan tunduk
kepada hukum-Nya
Selanjutnya beliau menjelaskan tentang hakekat
ibadah, cinta karena Allah dan benci kepada musuh-musuh agama. Kemudian
menjelaskan hakekat millah Ibrahim as. Dan beliau mengatakan, “Dengan itu Anda
bisa mengetahui sejauh mana kebanyakan orang yang menyangka dirinya muslim itu
telah tenggelam ke dalam neo-paganisme, dan seberapa kuat prinsip-prinsip Barat
dengan segala sekte materialisme menghegemoni pikirannya, sehingga mereka
menjadikan hukum nasional berada di atas hukum Allah. Mereka menjadikan dirinya
memilih dalam hal yang mereka syariatkan dan mereka atur dengan menyelisihi
ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengikuti apa
yang didiktekan oleh tokoh-tokoh yang mereka pertuhankan dengan kecintaan dan
pengagungan, dan mereka angkat tokoh-tokoh itu sebagai tandingan-tandingan bagi
Allah, seperti nasionalisme, dan segala tuntutan sekte materialisme…
Kemudian beliau menyebutkan orang yang menjadikan
negara sebagai tandingan bagi Allah, dalam kata mereka; ”Negerimu berdiri di
atas segala agama, karena itu berbuka dan berpuasa..Mereka mendatangkan wala’
kepada musuh Allah dengan alasan ras dan negara, dan meniadakan syari’at dengan
alasan perkembangan yang rusak, dan ibadah segala sesuatu thaghut di jalan itu
Dan di antara prinsip-prinsip mereka yang bathil, adalah;
•
agama itu untuk Allah dan negara untuk bersama
•
agama adalah hubungan hamba dengan Tuhan saja tidak berkaitan dengan persoalan
hidup di dunia
•
suara rakyat adalah suara Tuhan
Beliau
menyebutkan bahwasannya alumni sekolah kolonialis senantiasa menopang
(yurakizu) pemahaman ini di berbagai tingkat umat Islam. Dan berkata bahwa yang
pertama-tama diwajibkan oleh kolonial atas kita adalah budayanya melalui di
sekolah-sekolah itu. Kemudian beliau berkata, maka kaum muslimin, baik yang tua
maupun yang muda, baik pemerintah maupun rakyatnya, hendaklah meluruskan
neo-syirik dan neo-paganisme tersebut.
Semoga
shalawat dan salam dilimpahkan atas nabi kita Muhammad, keluarganya, dan
seluruh shahabatnya..
Wallahu A’lamu bish Shawwab…